Sebuah Refleksi Hidup

Jika kita berfikir hidup itu untuk berbagi maka anda pasti mengerti bahwa keberadaan anda sekarang sangat berharga

Ilmu seperti gerbang pintu menuju sebuah alam misteri. Munculnya temuan-temuan yang bermanfaat bagi kehidupan merupakan pijakan dari ilmu, namun dibalik itu ada juga ilmu yang bersifat pengetahuan yang penyingkapannya memerlukan bukti atau ilmu tambahan dalam menegaskan keyakinan. Perang opini sering terjadi pada ilmu terakhir ini dengan membawa 'perasaan' sebagai embel-embelnya.
 
Masih terus terngiang di telinga Bintang suara keributan di masjid tempat dia mengaji, berbagai argumen bertebaran dalam memperkokoh ego masing-masing yang selalu bersembunyi di balik kebenaran. Semua tampak sholeh dan baik, dengan busana-busana ala nabi atau wali yang mereka coba citrakan pada diri mereka. Cinta sirna tanpa bekas, menguap dalam panasnya hati, mendidihkan aliran darah yang membuat banyak orang terkena penyakit. Penyakit itupun sering di celotehkan sebagai ujian padahal bakterinya di produksi sendiri secara sukarela oleh hawa nafsu. 
 
Gelombang air laut terus mengayun perahu tempat ayah dan anak itu mencari karunia ilahi. Angin berhembus semilir seperti berbaur dalam menjalankan amanah. Anak itu berdiri dekat tiang sampan sambil memandang jauh kedepan, laut seperti tidak bertepi. " Ayah, apakah Allah suka berpihak kepada sesuatu ?" tanya anak itu kepada ayahnya yang masih sibuk mengatur jala ikan dan membuang beberapa terumbu karang yang menempel pada jaring tersebut.
 
" Bintang.....bintang tidak percuma kau kuberi nama Bintang dengan harapan kelak kau berperilaku dan berfikir setinggi bintang dilangit. Tidak anaku, Allah tidak pernah berpihak pada siapapun karena Allah berdiri sendiri, dan itu adalah sifat yang melekat pada diriNya" jawab ayahnya tanpa menoleh sedikitpun dan tetap sibuk dengan jaring ikannya. Si anak menoleh kepada ayahnya " Loh bukannya Allah memihak kepada yang benar yah?"
 
" Kelihatannya memang seperti itu tetapi sebenarnya tidak anakku. Allah maha berkehendak. Jika Allah berkehendak menciptakan semuanya baik maka siapa yang bisa membuatnya menjadi buruk atau jika Allah berkehendak membuat segalanya menjadi buruk lalu siapa yang mampu membuatnya menjadi baik ? tidak ada kerugian atau keuntungan yang di peroleh Allah atas pilihan manusia. Allah membuat aturan untuk kepentingan manusia itu sendiri, dan Allah memberikan konsekwensi atas setiap pilihan manusia. Jika berbuat baik dapat pahala dan berbuat buruk dapat dosa , jika tidak ada konsekwensi tentu tidak perlu ada aturan dan jelas itu tidak mungkin karena salah satu sifat Allah adalah sang maha Pengatur segalanya." jawabnya ayah anak itu sambil tersenyum karena pertanyaan tersebut sangat berkaitan dengan masalah ketuhanan, masalah tauhid, masalah yang paling penting dalam agama.
 
Bintang terdiam mendengar jawaban ayahnya, dia tidak mau melanjutkan lebih jauh, hari telah senja dia hendak bergegas pulang berkebalikan dengan nelayan pada umumnya yang kebanyakan mencari ikan di waktu malam, Bintang bersama ayahnya mencari ikan mulai pagi hari karena hari itu adalah hari libur,  jika hari biasa, ayahnya berangkat sendiri pada malam hari dan terkadang di temani oleh paman atau adik ayahnya.
 
------------------
 
"Mengapa jika batu di lempar keatas maka batu tersebut akan kembali ke bawah ?" tanya Bu Ratmi guru IPA kepada anak-anak dikelas lima sekolah dasar Merpati 01, tempat dimana Bintang menuntut ilmu. " Karena adanya daya gravitasi bumi bu " jawab Anita dari bangku paling depan. Anak yang memakai kaca mata itu memang terlihat suka membaca, tetapi jawaban itu tentu terlalu mudah bagi seorang kutu buku. " Karena Allah yang menghendaki seperti itu bu " jawab Bintang dari samping kiri kelas. Tentu saja jawaban ini sangat bias dan universal apalagi dikaitkan dengan mata pelajaran IPA, tetapi Ibu guru juga tidak bisa menyalahkan.
" Yang benar jawaban Anita bukan kamu Tang ! " kata Rusdi, anak yang selalu ingin terlihat pintar dengan rambut kelimis disisir kebelakang.
" Loh kok gitu, teori itu kan yang buat manusia yang bernama Isaac Newton, hanya karena apel jatuh di kepalanya, mengapa disebut daya tarik bumi ? mengapa tidak disebut daya tolak langit bukankah hasilnya sama-sama kebawah ? lalu apakah setiap teori itu tidak ada hubungannya dengan ketetapan dari Allah ?" jawab Bintang dengan lantang yang membuat suasana hening. Tentu saja hal ini menyiratkan bahwa Bintang bukannya tidak tahu tentang teori itu tetapi dia hanya ingin menegaskan sesuatu di balik teori, bahwa ada yang Maha berkehendak. Lagi-lagi pelajaran tauhid telah mewarnai setiap mata pelajaran yang di terima oleh anak itu yang membuat gurunya merinding mendengarnya.
" Benar Bintang ! semua memang telah ditetapkan oleh yang maha kuasa, dan untuk memudahkan setiap ketetapanNYa maka harus di beri nama untuk memudahkan dalam mempelajari dan kebetulan yang di bukakan fikirannya untuk memahami masalah ini pertama kali adalah Newton jadi penamaan itu hanyalah proses menghagai hasil usahanya menerima ilmu Allah" jawab Ibu Ratmi sebijak mungkin, dan hal ini mengena dihati Bintang.
 
Penanaman nilai-nilai aqidah dan ahlak telah sejak dini di rasakan oleh Bintang di keluarganya, baginya ayat-ayat kauniyah yang ada pada alam semesta sama pentingnya dengan ayat-ayat qauliyah yang telah dibakukan dan di tafsirkan bermacam-macam oleh banyak orang. " Tujuan utama Rasulullah itu di utus selain untuk mengesakan Allah juga untuk merubah ahlak anakku" kata ayahnya dalam beberapa kali kesempatan karena yang belakangan ini berkembang adalah banyak orang yang melupakan tujuan utama dan mengedepankan aksesorisnya. Yang terlihat adalah topeng-topeng berjalan, bumi pun resah dan gejolak bencana terjadi dimana-mana.
 
------------------------------
 
Setelah melewati ujian untuk kenaikan kelas , sekolah Bintang mengadakan acara dharma wisata ke candi Borobudur. Tabungan siswa selama belajar setahun di pergunakan sebagai biaya keberangkatan dan akomodasi. Sebagai siswa kelas lima dan akan segera memasuki kelas enam, anak-anak telah mempelajari berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia, termasuk situs-situs bersejarah bahkan salah satunya tercatat sebagai keajaiban dunia seperti Borobudur tersebut.
 
Hari itu matahari begitu menyengat kulit. Berdiri diantara patung-patung candi yang tinggi membuat beberapa siswa merasa kepanasan dan berlari kearah pepohonan di luar area candi. Pedagang nampak hilir mudik menjajakan dagangangannya. Seorang bapak penjual barang pajangan menghampiri Bintang yang duduk santai di bawah pohon bersama beberapa temannya. " Beli oleh-oleh dek, buat di rumah ?" tanya bapak itu. Bintang hanya menggelengkan kepala karena memang dia tidak punya uang untuk membeli apapun. Jika bukan karena tabungan siswa, belum tentu Bintang bisa ikut serta. Tiba-tiba Bintang teringat dengan ayahnya. Dia ingin membelikan sesuatu dan matanya tertuju pada penjual batik warna warni dengan bahan kain tipis, mungkin disesuaikan dengan harganya yang murah. Tetapi bagi Bintang harga itu tetap mahal karena dia tidak mengantongi uang sedikitpun.
 
" Pak boleh tau bapak mengambil barang ini dari mana, maksud saya agennya ?" tanya bintang kepada bapak yang menawarkan barang pajangan itu.
" Memangnya jamu mau beli banyak, ya udah beli sama saya saja, nanti saya bisa sediakan berapapun yang adek mau" sahut bapak itu penuh selidik. Bintang hanya menunduk, kemudian menatap kesegala arah , seperti mencari sesuatu.
" Ngga pak justru saya mau jualan seperti bapak, saya ngga punya uang pak, tapi saya mau beli oleh-oleh buat ayah dirumah nah mungkin waktu yang sedikit ini saya gunakan untuk jualan, siapa tau ada rezeki" balas Bintang. Bapak itu diam sejenak, dia melihat mimik keseriusan pada wajah Bintang, ada rasa kasihan muncul sehingga bapak tersebut mencoba membantu Bintang.
" Kalo Agennya jauh dek, kamu gak bakal punya waktu banyak, begini saja , kamu jual punya saya ini dan keuntungannya kita bagi dua, saya masih punya banyak stok yang belum laku di kardus sana " kata bapak itu sambil menunjuk ke sebuah tumpukan karton didekat warung-warung pinggiran.
 
Selang beberapa waktu kemudian Bintang telah berdagang ke pada teman-temannya sendiri benda-benda pajangan seperti ukiran candi mini dari kayu atau pernak-pernik lainnya. Temannya bingung, tapi mereka paham dengan karakter bintang yang selalu bisa memanfaatkan situasi dengan berusaha atau berkarya. Dukungan sebagai bentuk solidaritas membuat dagangan Bintang cepat habis hanya dalam beberapa jam oleh teman atau guru-gurunya sendiri disamping sekolah lain yang kebetulan mengadakan acara yang sama pada hari itu. Telah terkumpul keuntungan sebesar dua puluh lima ribu rupiah setelah di bagi dua dengan bapak pemilik dagangan. Uang tersebut cukup untuk membeli sebuah baju batik untuk ayahnya.
 
Setengah jam menjelang pulang,  tiba-tiba hari menjadi gelap, hujan mulai turun dengan deras. Bintang mencoba mencari penjual baju batik yang agak murah dengan kualitas yang bagus. Matanya menatap sebuah baju batik dengan corak warna biru muda cocok dengan kulit ayahnya yang gelap karena terbakar sinar matahari. " Mas beli kue mas, masih hangat" seru seorang anak kecil, kira-kira empat tahun dibawahnya atau sekitar kelas satu SD.
" sssst jangan beli, dia itu beragama hindu" bisik temannya dari samping. " Memangnya kenapa ?" tanya Bintang heran. " Ya berarti makannannya tidak terjamin, lagi pula kalo mau beli dan aman, beli yang beragama islam saja " jawab temannya masih sambil berbisik. Entah mengerti atau tidak, anak pedagang kue itu pergi berbalik arah dengan payungnya. Tiba-tiba kaki kecilnya tersenggol batu koral yang menancap ketanah, sehingga dia terjatuh dan kakinya luka. Kuenya basahnya, benar-benar basah terkena air hujan dan sebagian lagi berserakan diatas tanah yang berair. Bintang dan temannya segera menolong, beberapa orang yang melihat juga ikut membantu mengangkat barang dagangnnya yang masih bisa di selamatkan.
 
"Bintang!...Andy!...cepat Bis mau berangkat" teriak temannya dari kejauhan. Andy segera berlari diantara air hujan menuju parkiran bis. Bintang menatap anak itu dengan iba, hajatnya untuk membeli batik belum terpenuhi, akhirnya uang itu di masukan kekantong baju anak itu dengan tiba-tiba sambil berbisik" nih ada sedikit bekal unutk membeli obat dan mengganti daganganmu yang rusak "  . Belum sempat anak itu membalas, Bintang sudah berlari kencang kearah bis.
 
Didalam Bis guru bercerita tentang kemegahan ibu pertiwi dimasa lalu " Anak-anak apa yang kalian lihat tadi adalah prasasti tentang sebuah kejayaan kerajaan dimasa lalu, kalian juga bisa membuat prasasti kalian masing-masing di muka bumi dengan apaaaaa?" tanya guru tersebut kepada muridnya. "Dengan berbuat baik buuuuuu!!!!" jawab anak-anak secara serentak kecuali Bintang yang hanya diam sambil memandang keluar jendela, masih terbayang baju batik untuk ayahnya yang berwarna biru itu.
-------------------------------
 
Setiba dirumah ayah dan ibunya menyambut dengan gembira dan menanyakan pengalaman Bintang dalam berwisata ke candi Borobudur. Bintang menceritakan semuanya kecuali niatnya untuk membeli batik, takut ayahnya kecewa. " Oh ya Bintang tadi ada teman lama ayah yang memberikan baju batik kepada ayah, kami sudah lama tidak jumpa , eh dia bawa oleh-oleh rupanya" kata ayahnya sambil membuka sebuah bungkusan. Setelah dibuka , Bintang kaget karena baju batik itu sama persis dengan baju yang akan dia belikan untuk ayahnya. " Subhanallah !!! Aku tahu Engkau Maha Melihat Ya Allah"  teriaknya dalam hati. Keteguhannya akan keberadaan Allah semakin kokoh, lewat sikap dan perbuatan.
 
Salam
 
David Sofyan

Read More..

Andika terus berlari menerobos barisan anak-anak sekolah dasar negeri sebelas saingan terberat sekolahnya, sekolah dasar negeri sembilan. " Kemenangan bukanlah tujuan kalian berlomba, tapi menunjukan kepada diri kalian sendiri bahwa kalianpun bisa berprestasi !" kata guru oleh raga beberapa saat sebelum lomba, yang terus terngiang di telinga Andika. Kaki andika terus berpacu dengan kaki-kaki lain dalam ajang lomba lari antar sekolah, memperebutkan piala dari bupati, berupa uang tunai senilai satu juta lima ratus ribu rupiah dan seperangkat peralatan sekolah untuk juara pertama. "Ayo Dika cepat kita maju bersama ke garis 'finish'" teriak Sena dari samping, yang telah berhasil menerobos anak lain dan memimpin lomba bersama Andika.
---------------------------------
Beberapa hari sebelum lomba ............
Seorang anak keluar dari sebuah mobil sedan hitam agak jauh dari gerbang sekolah. Tiba-tiba anak itu berlari ke arah teman yang sedan jalan kaki didepannya. " Ayo Sena lomba lari sampai ke depan gerbang sekolah " teriaknya sambil terus memacu larinya. Anak yang di panggil dengan nama Sena itupun mengejarnya tak mau kalah. " Curang kamu Dik, masa curi start duluan" teriak balik anak itu sambil berusaha mengejar.
" Gimana Sen, jadi mau ikut lomba kan ?" tanya Andika sambil mendorong pintu gerbang yang sedikit tertutup. " gimana yah, mau nya sih, lumayan juga hadiahnya buat bantu ibu" sahut Sena perlahan. " Oh ya Dik kemaren sewaktu kita sekolah , ada yang ngasih sepatu olah raga kerumahku, kata ibu orang nya agak tua, kira-kira siapa ya?, kok dia tau kalau sepatuku sudah rusak ? " tanya Sena penasaran
" Yah mungkin ada yang simpati dengan kamu kali Sen, soalnya mukamu itu memelas sih !" ejek Andika
" Dasar kamu Dik, bisanya cuma ngejek saja, " gerutu Sena sambil jalan kedalam kelas
"Terus kalo kamu menang mau di beliin apa Dik ?" tanya Sena, kepada Andika yang terlihat telah memiliki semuanya karena dia terlahir dari keluarga cukup berada. Ayahnya bekerja sebagai manager pada sebuah perushaan telekomunikasi swasta. " Aku mau beli jam tangan G-Shock ,he..he..he, jam tanganku yang ini sering ngadat kecebur kolam renang kemaren" jawab Andika semaunya, membuat Sena geleng-geleng kepala, karena harga jam itu sudah bisa buat belanja keluarga mereka selama sebulan. Kebutuhan orang memang berbeda-beda. Apa yang dinilai sebagai kebutuhan pokok bagi seseorang mungkin bagi orang lain hanya kebutuhan sekunder. Bahkan terdengar suara ibu-ibu arisan dari kalangan elite bahwa yang mereka permasalahkan bukanlah harga barang tapi tempat, suasana dan kenyamanan belanja, karena kebutuhan pokok mereka adalah proses berbelanjanya dan bukan apa yang dibelanjakan.
 
--------------------
" Ayo Sena...Dika cepat lari !" teriak penonton, di pinggir garis finish, meneriaki mereka berdua. Teman-teman sekolah mereka terus memberi semangat. Peserta dari sekolah lain terus berusaha menyusul. Jarak semakin dekat, pertarungan semakin memuncak. Sena berusaha mengayunkan kakinya secepat mungkin, begitu juga dengan Andika tidak mau kalah. Sewaktu garis finish, berjarak tiga meter Andika terjatuh dan berusaha bangkit secepat mungkin, tapi Sena menyentuh garis finish terlebih dahulu, bahkan posisi kedua juga telah di ambil oleh sekolah lain. Andika hanya menempati posisi ketiga. " Hidup Sena! Hidup Sena!" teriak teman-temannya bersorak gembira menyambut sang pemenang. " Selamat Sen, ternyata kamu lebih hebat dari pada saya" sahut Andika dari samping sambil menjabat tangan Sena." Ah bisa saja kamu Dik, kalo kamu gak jatuh, mungkin kamu yang jadi pemenang, posisi kamukan didepanku tadi" jawab Sena tersenyum. Andika dan Sena adalah sahabat dekat dari kelas satu sampai kelas lima saat itu.
 
Hari itu Sena sangat gembira, alam semesta seperti berpihak kepadanya, puji syukur terus menerus dia panjatkan kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan tanpa pernah putus. Mungkin hanya prasangka manusialah yang memutuskan bahwa nikmat itu hanya diadapat pada saat-saat tertentu, padahal sambil menggerutu manusia tetap manarik nafas menikmati secara tidak sadar pemberian udara yang tidak henti-hentinya.
 
Waktu berjalan dengan cepat, sewaktu naik kelas enam Andika pindah sekolah mengikuti kedua orang tuanya yang di tempatkan didaerah lain karena ayahnya di tugaskan untuk memimpin perusahaan cabang  didaerah tersebut. Ada bingkisan dari Sena yang belum di buka disela-sela baju, Andika sibuk dengan barang-barang berat lainnya yang mesti dikemas secepat mungkin. Sedangkan . Penempatan tersebut diperkirakan memakan waktu lima sampai sepuluhtahun sehingga tidak mungkin membiarkan semua peralatan mereka terbengkalai dan ayahnya telah menjual sebagian peralatan berat yang tidak mungkin di bawa serta dan berjanji akan menggantinya setelah tiba di tempat tujuan.
 
Setiba di tempat tujuan, andika membenahi seluruh barang bawaannya beserta perlengkapan sekolah yang akan segera di mulai di tempat baru. Bingkisan dari Sena masih terbungkus rapi. Andika membukanya karena penasaran dengan isi benda tersebut. Sebuah jam tangan G-Shock masih dalam kemasan dan sehelai kertas, tulisan tangan Sena.
 
" Gimana dengan Jamnya sama tidak dengan yang kamu inginkan ?  Jangan tanya bagaimana aku membelinya kamu pasti sudah paham, ya dari hadiah lomba lari waktu itu. Aku tahu Dik, kamu pura-pura jatuh agar aku menang, sama dengan aku tahu bahwa kamu yang nyurus sopir ayahmu untuk mengirim sepatu kerumahku agar aku mau ikut lomba. Jangan pula bertanya dari mana aku tahu, Kita sudah berteman lama, aku tahu persis karaktermu, suka mengalah. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh anak-anak orang kaya di luar sana. Kamu pasti mengerti Dik kalau aku jarang bisa memberi sesuatu yang berharga bagi orang lain, bukan karena aku tidak mau, tapi aku tidak mempunyai apa-apa yang layak untuk di berikan. Mungkin inilah benda termahal yang penah aku berikan kepada seseorang, dan orang itu memang pantas mendapatkannya, dia adalah sahabat terbaiku Andika Kameswhara,
 
salam dari sahabatmu
 
Sena Prasetya"
 
Dilangit banyak tergores berbagai cerita anak manusia, Allah seperti sutradara tanpa tanding yang mampu membuat berbagai adegan yang berbeda secara simultan. Berjuta bahkan bermilyar lembaran scenario telah di mainkan oleh semua ciptaannya dengan penuh hikmat, baik secara sadar, tidak sadar, sukarela maupun terpaksa. Manusia juga mencoba belajar tentang diri sang sutradara lewat lebaran kitab suci maupun dengan keterbatasan penalaran otak mereka. Petunjuk yang di berikan Sang sutradara, ada yang membuat manusia menjadi sadar tetapi ada juga yang justru menjadi sombang, karena merasa di tunjuk Sang pemberi petunjuk untuk menunjuki jalan bagi orang lain. Prasangka telah banyak membutakan mata hati manusia, dan berjalan hanya menggunkan mata kepala dan mata kaki, untuk main seruduk sana-sini. Matahari terus beredar memberikan tanda bahwa waktu telah berputar, menggulung hingga dua puluh tahun berlalu.
 
" Ayah, beliin aku sepeda dong biar, bisa bonceng adek keliling komplek" kata seorang anak kecil berusia lima tahun kepada ayahnya yang sibuk membaca harian ibuka kota. " Iya ntar, sana jaga adek dulu, nanti dia malah lari kejalanan lagi" sahut ayahnya dari teras rumah. Anak itu berjelan keluar pagar mencari adiknya. Tadi mereka sibuk main rumah-rumahn di pekerangan, tapi adiknya yang berusia tiga tahun telah berlari keluar melihat sekumpulan anak-anak bermain bola di seberang jalan. " Rangga, hati-hati nanti ketabrak loh !" teriak Ibunya dari dalam rumah, " Mas Dika tolong liatin tuh si Rangga, udah kabur keluar, dia memakai jam G-Shock Mas dulu tuh " Ibu anak itu minta tolong kepada suaminya yang masih sibuk membolak balik halam koran. Tiba-tiba suara handpone berbunyi dan percakapan pun terlihat serius, setelah itu ayah dari dua anak itu pergi berganti pakaian " Bu Aku pergi dulu yah, klien ada yang berususan dengan petugas, katanya klienku di tuduh menggelapkan uang perusahaan " sahutnya sambil bergegas mengeluarkan mobil dari pekarangan rumah.
 
" Mas ini HP nya ketinggalan !" teriak istrinya yang mengingatkan bahwa handphone suaminya tertinggal di teras depan setelah tadi menerima telepon. Dia terlupa karena langsung kekamar berganti pakaian, tapi terlambat karena suaminya Andika telah berlalu dengan cepat. " Ayaaaah !" teriak Rangga anaknya yang paling kecil melihat ayahnya pergi sedangkan dia waktu masih asyik menonton bola di seberang jalan. Anak itu belum mengerti situasi dan berusaha mengejar ayahnya. Sebuah sepeda motor secara tidak sengaja menyerempetnya sehingga terjatuh ke trotoar samping, dan kepalanya terbetur batu. Tiara kakaknya berteriak minta bantuan. Ibu dan tetangganya berusaha menolong dan membawa Rangga kerumah sakit. Sang pengendara sepeda motor telah hilang diujung jalan.
 
Setelah memasukan Rangga ke ruang pemeriksaan dan mengisi registrasi pendaftaran istri Andika bersama anaknya Tiara kembali keruang pemeriksaan sambil menunggu telepon dari Andika. Tapi telepon belum juga berbunyi sampai beberapa jam kemudian, seorang dokter keluar memberikan keterangan " Ibu orang tuanya Rangga" tanya dokter itu
" Benar Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Istri Andika dengan cemas
" Alhamdulillah baik, lukanya agak panjang tapi benturan tidak sampai mengenai tulang sehingga, geger otak tidak terjadi sama sekali" terang Dokter itu sambil berusaha menenangkan ibu dua anak tersebut.
" Oh ya nama suami ibu Andika Kameswara ?" tanya dokter itu
" Benar Dok, dari mana dokter tahu ?" tanya istri Andika penasaran
" Yah sudah lah lupankan saja, semua biaya perawatan sudah lunas, nanti sore Rangga sudah bisa dibawa pulang, ...oh ya salam ya buat suami Ibu, bilang saja dari teman lamanya " kata Dokter tersebut sambil pergi  untuk menangani pasien lainnya.
 
-----------------
 
Andika baru sadar HPnya tertinggal pada siang hari sewaktu istrinya mengurus administrasi rumah sakit yang telah di bayar lunas oleh seseorang. Tapi Istri andika tidak menjelaskan semua secara rinci untuk menjaga perasaan suaminya. Sewaktu Andika menjemput kerumah sakit, kondisi Rangga sudah membaik, dia sadar dan memanggil-manggil ayahnya dengan kepala penuh perban. Andika memeluk anaknya bungsunya itu dengan penuh kasih sayang. Muncul rasa sesal karena tidak sempat pamitan dengan mereka. Istri andika kemudian menceritakan tentang dokter yang bertanya tentang dirinya dan biaya rumah sakit yang telah di lunasi. " Siapa nama Dokter itu " tanya Andika, " Duh saya lupa nanya lagi tadi... " jawab istrinya sambil memegang kepala
 
Ketika mereka menuju tempat parkir tiba-tiba seseorang berteriak dari samping " masih kuat lomba lari gak Dik " sahut seseorang. " Nah ini dia Dokternya yah !" sahut istrinya gembira. " Hah Sena !, kamu Sena ! udah jadi dokter rupanya, Dokter Sena Prasetya , pantas kamu mengenalku" seru Andika
" tahu dari mana ? nama Andikakan banyak ?" tanya Istrinya penasaran, Andika tersenyum " Coba lihat jam tangan G-Shock yang di tangan Rangga, disana aku ukir nama Sena Prasetya, orang menghadiahkan jam itu kepada ku dulu " jawab Andika sambil memeluk sahabatnya tersebut.
 
Persahabatan memang tak lekang oleh waktu, di dunia ini cerita cinta hanya bisa ditandingi oleh cerita persahabatan, suatu hubungan yang selalu dilekatkan Rasulullah kepada sahabat-sahabatnya, tidak ada istilah guru dan murid, yang ada hanyalah persahabatan, kapada siapapun baik tua maupun muda.
 
Salam
 
David Sofyan
 
 

Read More..

Manusia selalu di warnai dengan keinginan, apapun bentuknya. Manusia tanpa keinginan adalah manusia yang tidak bisa mewarnai hidup, kata seorang teman. Mungkin ada benarnya, bahwa keinginan bisa memacu semangat untuk berusaha, seperti keinginan untuk mendapatkan rumah, mobil, anak dan lainnya. Salah seorang teman yang sudah cukup matang dalam usia sewaktu di masjid di tanya tentang keinginannya, dia menjawab ingin menjadi orang yang bertaqwa. Ada lagi seorang bapak yang hanya memiliki seorang anak,  ketika di tanya tentang keinginannya dia menjawab kalau dia ingin melihat anaknya 'semata wayang' itu  bahagia.
 
Memasuki tahun ajaran baru, orang tua yang memiliki anak yang baru masuk sekolah akan mulai di sodorkan berbagai keinginan anak dalam memenuhi tuntutan pendidikan yang cukup mahal. Sekolah memang gratis tetapi untuk pakaian seragam dan buku sekolah orag tua harus merogoh kantong cukup dalam. Kita ingin bahkan menuntut anak kita untuk memiliki pendidikan yang tinggi dan sebaliknya pendidikan pun menuntut kita biaya yang cukup tinggi. Artinya keinginan sering mengejar dan memaksa kita  untuk di wujudkan. Dan pada akhirnya ada sebagian orang  yang menanggalkan keimanan untuk mewujudkan keinginannya tersebut." Keinginan itu harus berlandaskan dengan keimanan" kata Pak Amin disela-sela waktu sehabis maghrib. Saya tidak mengerti dengan maksudnya karena sering kali orang mudah mengatakan sesuatu yang dinilainya secara subjektif, seperti keinginannya merayakan sunatan cucunya secara meriah dengan mengundang panari, entah dimana muatan keimanan dari keinginannya tersebut.
 
Belakangan ini muncul trend baru yaitu keinginan-keinginan tampak sholeh. Pengajian-pengajian banyak di serbu, perlehatan-perlehatan akbarpun sering terselenggara. Pawai kendaraan dengan " pakaian  taqwa" sering kali memadati jalan sampai susah lewat karena iring-iringan harus di beri kesempatan terlebih dahulu, maklumlah mereka " serdadu Tuhan". Lain lagi dengan seorang penceramah yang turun dari sebuah mobil yang bagi "orang  bawah" di nilai mewah menganjurkan hidup sederhana seperti cara Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang walaupun seorang khalifah atau raja untuk ukuran sekarang Beliau tetap hidup dalam keadaan kekurangan. " Kita harus mencontoh Beliau !" kata penceramah itu, "Kita" disitu maksudnya  yang mendengarkannya. Seorang teman melihat keadaan ini pernah berujar " Saya mau cari ustadz yang kehidupannya sehari-harinya seperti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam  untuk belajar agama , ada gak ya di Jakarta ini ?". Mungkin ada, cuma kita tidak tahu , karena orang-orang seperti itu jarang pernah mau menonjolkan diri.
 
Keinginan-keinginan sering kali telah bercampur dengan dunia beserta atributnya sehingga sering ayat-ayat Tuhan di sesuaikan dengan keinginan sang pelaku baik itu mengenai sesuatu yang di hajatkan, waktu maupun tempat. Bekerja dan berusaha jika diniatkan karena Allah adalah ibadah, lalu apa yang membedakan bekerja pada jaman Rasulullah, atau jaman sahabat atau jaman tabi'in dengan bekerja pada saat sekarang ? Seorang teman sering mengeluh dengan penghasilannya perbulan yang tidak sesuai dengan pengeluarannya, " Kenapa ya, rezeki saya pas-pasan padahal semuanya untuk menafkahi keluarga dan itukan ibadah" katanya seperti bertanya kapada diri sendiri sambil memegang buletin masjid bertajuk " Berserah diri Kepada Allah ". Apakah ibadah itu sesuatu yang di dapatkan atau sesuatu yang dipersembahkan ? . Mengetahui, memahami dan mengalami adalah sesuatu yang berbeda. Seiring dengan bertebarannya buku-buku agama, kitab-kitab hadist, dan berbagai tafsir kita sedang mengalami uforia " Mengetahui". Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa sampai pada tahap memaknai apa yang telah kita alami, agar bisa memahami makna berserah diri kepada Allah.
 
Salam
 
David Sofyan
 
 

Read More..

Cinta Dalam Sepotong Wacana
 
Pengetahuan berasal dari pengalaman yang di bakukan untuk di informasikan kepada orang lain. Belajar membuat mobil berarti merunut ulang pengalaman sang penemu mobil, tetapi belajar tidak akan menghasilkan mobil, karena mobil itu ada karena di buat atau karena hasil dari berkerja. Hadist adalah sunnah yang dibukukan, jadi belajar memahami sunnah mestilah melalui hadist, tapi hadist bukanlah sunnah. Hadist baru bermanfaat setelah di amalkan. Apa yang di sebutkan tadi adalah gambaran sederhana antara mengetahui dan mengalami. Lalu apa yang telah kita ketahui tentang masalah keTuhanan ? dan proses apa yang telah kita alami dalam menanamkan keyakinan kita ? belum banyak yang bisa menjawab selain membeberkan rentetan teori yang bersifat " tahu"
 
" Anak-anak, kasih sayang Allah itu kepada manusia jauh lebih besar dari pada kasih sayang orang tua kepada anaknya" kata Pak Zaenuddin, guru agama sekolah dasar  sewaktu mengajar masalah tauhid. " Apakah kalian bisa membedakannya ?" tanya Pak Zaenuddin lebih lanjut. Semua anak-anak dalam kelas menggelengkan kepala. " Baiklah pertanyaannya Bapak ganti, apakah kalian bisa merasakan kasih sayang Allah ?". " Bisa ! " teriak murid serempak. " Bagaimana caranya ? coba kasih contohnya Mira, ?" Tanya Pak Zaenuddin kepada Mira, anak yang duduk paling depan. " Kita telah diberikan mata untuk bisa melihat, kita juga bisa menghirup nafas dan lainnya merupakan wujud kasih sayang Allah kan Pak " jawab Mira setengah bertanya untuk meyakinkan jawabannya. " Benar apa yang dikatakan Mira, anak-anak, tapi coba kalian jujur, yang mana yang lebih kalian rasakan antara kasih sayang  ayah dan ibu di rumah atau kasih sayang Allah ?" kembali Pak Zaenuddin bertanya sambil tersenyum, karena hal ini masalah rasa dan bukan lagi bersifat teori yang mendoktrin. Anak-anak terdiam, mereka takut untuk mengatakan bahwa mereka lebih merasakan kasih sayang orang tua dari pada kasih sayang Allah, sesuatu yang bukan lagi bersifat pengetahuan  tapi pengalaman.
 
Menyatakan apa yang dirasakan jauh lebih susah dari pada menyatakan apa yang diketahui. Kita bisa menjelaskan tentang keindahan suatu alam tapi kita susah menjelaskan betapa senang hati kita melihat keindahan tersebut. Membandingkan apa yang kita ketahui dengan apa yang kita rasakan bukanlah perkara mudah. Jika rukun Islam berkenaan dengan pengetahuan maka rukun iman berkenaan dengan perasaan. Kita bisa saja telah mengetahui banyak hal tentang keIslaman tetapi hal itu tidak menjamin turut sertanya keimanan dalam hati kita, seperti firman Allah dalam surah Al Hujuraat ayat 14 : Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  Kata 'kami telah tunduk' lafaznya adalah 'aslamna yang sebagian penafsiran mengartikan kami telah ber-Islam. Artinya ketundukan pada segala aturan yang telah di tetapkan belum menjamin tumbuhnya sebuah keimanan, apalagi jika aturan itu dilakukan dengan terpaksa.
 
Perpaduan Rukun Islam dan rukun iman atau pengetahuan dan perasaan akan memunculkan rukun Ihsan, atau keyakinan. Rukun ini sering terlupakan dan dianggap sebagai pelengkap semata, padahal pada rukun inilah inti ketauhidan, Murroqobatullah, selalu marasa diawasi Allah. seperti firman Allah dalam surah Al Hadiid " wahuwa ma'akum 'aina ma kuntum wallahu bima ta'maluna bashir " Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada, Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan." Lalu apakah setelah kita membaca ayat ini kita kemudian bisa langsung merasakan bahwa Allah sedang melihat kita ? belum tentu.
 
Beberepa tahun yang lalu seorang teman yang beragama nasrani yang sedang berusaha mendalami agama lain karena merasakan kehampaan dalam agama yang dianutnya pernah bertanya " Kamu bersaksi bahwa Allah adalah tuhan dan Muhammad adalah utusanNya, apakah kamu pernah menyaksikanNya ?" , saya kemudian menjawab bahwa kita bisa menyaksikan segala kebesaranNya yang ada dimuka bumi, karena semua itu adalah ciptaanNya. Kemudian dia bertanya lagi " Berarti kamu hanya bersaksi atas kebesaran ciptaanNya, kamu tidak pernah bersaksi atas ZatNya ? apakah kamu berani bersaksi bahwa Allah sedang menyaksikanmu saat ini ?". Saat itu saya baru sadar bahwa kekuatan syahadat yang begitu besar sebagai inti ketauhidan telah lama di tinggalkan. Bukankan Allah berkata bahwa Dia lebih dekat dari pada urat leher kita, lalu jika sedekat itu saja kita tidak bisa merasakan, lalu Tuhan seperti apa yang kita saksikan selama ini, apakah sudah mendekati penyaksian Bilal dalam teriakan "ahadnya"  ketika hendak siksa ?
 
Pak Zaenuddin kemudian bercerita tentang kasih sayang orang tua yang di perolehnya dari dunia maya (internet). "Anak-anak, ketika terjadi gempa bumi di Cina, banyak orang yang sibuk menyelamatkan diri. Seorang ibu beserta anaknya yang berusia beberapa bulan terperangkap didalam sebuah gedung. Kemungkinan untuk lolos dari reruntuhan bangunan sudah tidak ada. Beberapa hari kemudian ibu tersebut di temukan dalam keadaan tertelungkup, seperti bersujud sambil mendekap anaknya yang berada di bawah. Ibu tersebut meninggal dunia karena kepala dan badannya remuk tetapi anak yang berada didalam dekapannya masih hidup dan dalam keadaan sehat. Ada pesan buat sianak yang di letakan didalam balutan baju si anak lewat sebuah handphone  dari ibunya tersebut : ' Anakku, jika pada akhirnya  kamu  bisa selamat, ketahuilah bahwa aku sangat menyayangimu. ' ". Pak Zaenuddin berhenti sebentar untuk melihat respon anak muridnya. " Apakah kalian bisa merasakan kasih sayang ibu itu kepada anaknya ?" tanya Pak Zaenuddin. Mata anak muridnya banyak yang berkaca-kaca menahan haru dan berteriak serempak " Bisaaaaa !". " Apakah kalian bisa merasakan kasih sayang Allah ada disana ?" tanya Pak Zaenuddin mencoba membangkitkan nalar anak muridnya. " Bukankah Allah yang menjaga anak itu sampai beberapa hari walaupun ibunya telah tiada ?" lanjutnya. Para murid hanya diam dan mulai menyadari bahwa ada cinta diatas cinta yang bermain dalam kisah itu. Cinta yang bukan lagi sebagai wacana, tapi realita yang mengisi relung-relung hati kita hari ini dan sampai kapanpun.
 
Salam
 
David Sofyan
 
 
 
 
 
 

Read More..

Dari atas salah satu gedung di daerah Gatot Subroto terlihat banyak orang berkerubung dibawah, berteriak-teriak, membawa yel-yel yang bertuliskan inspirasi mereka. Didepan mereka terhampar sebuah gedung berkubah tempat para petinggi negeri ini mempertaruhkan harapan rakyat. Ditelevisi terlihat kegaduhan yang sama dengan yang terjadi diluar, semuanya bercerita dengan mengatas namakan rakyat, entah rakyat yang mana. Di negeri lain di ujung sana sedang terjadi gempa dan tsunami jilid dua yang mengakibatkan rakyatnya saling menjarah kebutuhan pokok. Berbagai kejadian di belahan bumi manapun selalu akan berdampak pada peletakan sejarah yang akan datang mengenai kondisi bumi ini beserta isinya, bumi yang sebentar lagi akan mengakhiri masa kerjanya.
 
Dari dalam gedung berkubah itu terdengar salawat di lantunkan di tengah kegaduhan, dan diluar nama Allah terdengar di panggil-panggil dengan nada amarah. Berbagai kegaduhan ini ternyata menjadi sumber rejeki dari televisi anak negeri yang mengundang para pengiklan untuk mendukung acara realtime mereka beserta beberapa narasumber untuk berkomentar dalam meramaikan suasana. Berita-berita di koranpun menyuarakan hal yang sama, yaitu kasak-kusuk para pemimpin yang tidak layak memimpin, paling tidak begitulah salah satu kriteria dari Rasulullah seperti yang di riwayatkan oleh Abu Musa ra , Rasulullah saw. bersabda: "Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya." hadist itu mengenai pemilihan pemimpin untuk pembagian wilayah, hal ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di negeri ini dan dimanapun negara yang berstempelkan demokrasi yang justru menjual dirinya beserta atribut omong kosong yang sering kali menyertai.
 
Kita sebagai rakyat yang di paksa membeli demokrasi juga harus di paksa menonton citra orang-orang terpilih tersebut dalam mempertahankan kekuasaannya. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya akan muncul sepeninggalku sifat egois ( pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri sendiri) dan beberapa perkara yang tidak kamu sukai. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau perintahkan kepada seorang dari kami yang mengalami zaman itu? Beliau menjawab: "Laksanakanlah kewajiban kamu dan mohonlah kepada Allah yang menjadi hakmu". Kita memang harus tetap menjalankan kewajiban kita sebagai rakyat, mungkin kinilah saatnya rakyat yang harus memberi contoh kepada pemimpinnya tentang bagaimana cara berlapang dada menerima sebuah arogansi.
 
Banyak orang berharap kalau tidak mau disebut bermimpi tentang sebuah khilafah, padahal jika kita buka sejarah dinasti terdekat dengan masa Rasulullahpun masih saling menumpahkan darah untuk sebuah kekhalifahan, tiranipun masih ada, ulamapun banyak yang dipenjara. Tentu ini tidak menutup mata kita dengan berbagai keberhasilan dimasa lalu tetang terciptanya masyarakat madani pada periode Rasulullah sampai Umar bin Khattab, diskriminasi kekuasaan sempat terjadi pada masa Utsman dan kekacauan sampai perang terjadi pada jaman Ali bin Abi Thalib dan dilengserkan oleh Umayah bin Abu Sofyan dan memunculkan tirani pada masa Yazid bin Umayah. Gambaran masyarakat madani muncul kembali pada masa Umar bin Abdul Aziz. Lalu kita hendak berangkat dari yang mana ?
 
Sebagai rakyat yang letih bermimpi kita saat ini hanya membutuhkan pemimpin yang peduli pada rakyat. Kepedulian yang membuat dia sering hengkang dari kursi singgasana untuk berbaur kemasyarakat mencari tahu kesulitan yang sering kita alami. Jika sulit untuk mencontoh pemerintahan Rasulullah maka sederhanakan menjadi pemimpin yang mencotoh sifat kepemimpinan Rasulullah dan jika sulit juga maka contohlah kepemimpinan sahabat Rasulullah dan jika itu pun masih sulit juga maka tegarlah dan lapang dadalah untuk tidak jadi pemimpin dan bergabunglah bersama kami, rakyat jelata yang merindukan pemimpin yang peduli.
 
Salam
 
David Sofyan

Read More..

Menu Pencarian

Memuat...

Cermin

Tidak ada yang lebih menarik selain senyuman melihat rekaman cerita oranglain dan berharap tidak ada pantulan bayangan yang menerpa diri kita

Untuk Rumah Ilmu

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Blog Archive

Tukaran Link

Sebuah Titik


silahkan sorot pada text di dalam tabel


Indonesian Blogger